Latar belakang pemilihan usaha budidaya jamur tiram ini
diantaranya :
v Budidaya jamur tiram memiliki prospek
ekonomi yang baik. Permintaan pasar yang tinggi serta ruang lingkup usaha yang
terus berkembang ke berbagai daerah di Indonesia, memudahkan para pembudidaya
memasarkan hasil produksi jamur tiram.
v Tantangan akan ketersediaan pangan sehat bergizi dengan kuantitas yang
banyak, terjangkau berbagai kalangan, serta
berkesinambungan mampu dijawab salah satunya melalui budidaya jamur.
v Sistem budidaya jamur yang bisa dilakukan
secara vertikal (model rak) menjadi kelebihan utama dibandingkan budidaya
sayuran lainnya karena mampu menghemat lahan secara signifikan.
v Jamur tiram merupakan salah satu produk
komersial dan dapat dikembangkan dengan teknik yang sederhana. Bahan baku yang
dibutuhkan tergolong bahan yang murah dan mudah diperoleh seperti serbuk
gergajian kayu, dedak dan kapur, sementara proses budidaya sendiri tidak
membutuhkan berbagai pestisida atau bahan kimia lainnya.
v Sub usaha yang beragam mulai dari usaha
pembuatan bibit jamur, usaha budidaya jamur dan kuliner jamur (hulu ke hilir) dapat
membuka banyak peluang serapan tenaga kerja terutama bagi masyarakat daerah sekitar
pertanian jamur tiram.
Visi
Menjadi industri jamur tiram yang bersinergi dengan masyarakat petani jamur
melalui model usaha dari hulu ke hilir
Misi
Ø
Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar baik
sebagai karyawan tetap maupun pekerjaan tambahan.
Ø
Meningkatkan taraf hidup petani dengan menghasilkan bibit
jamur berkualitas baik
Ø
Membangun pusat pelatihan dan pendampingan bagi petani
jamur maupun masyarakat umum, di Bandung
dan di Indonesia pada umumnya.
Ø
Membentuk plasma-plasma tani dan asosiasi petani jamur
sehingga mampu pengoptimalkan produk yang dihasilkan baik dari segi harga
maupun ketersediaan hasil produksi.
Ø
Memperkenalkan jamur tiram secara luas kepada masyarakat melalui
pendekatan produk-produk olahan.
Pengembangan usaha jamur dari hulu ke hilir dibagi menjadi 3 inti usaha
yaitu: I. Produksi
bibit jamur (usaha hulu), II. budidaya jamur, dan III. olahan jamur (usaha
hilir). Dengan menjalankan ketiganya secara terintegrasi diharapkan dapat
tercapai industri jamur yang kokoh dan berkesinambungan.
Dalam model usaha ini, usaha jamur dilaksanakan di satu kawasan terpusat untuk memudahkan alur produksi. Cisarua, Bandung Barat merupakan salah satu tempat ideal untuk memulai pengembangan usaha ini dikarenakan banyaknya masyarakat petani jamur skala mikro yang dapat dilibatkan dan diberdayakan.
Prospek Pasar Budidaya Jamur
Peluang untuk
membudidayakan jamur tiram di Indonesia terbuka lebar. Hal ini tidak terlepas dari tingginya permintaan
pasar dalam negeri dan luar negeri yang meningkat dari waktu ke waktu.
1.
Permintaan jamur tiram di daerah Bandung dan sekitarnya
mencapai 7.500 -10.000 kg /hari. Adapun produksi jamur tiram di Bandung baru
mencapai 5 – 8 ton /hari, sedangkan jumlah ini masih harus dibagi ke beberapa
kota besar lain seperti jakarta, bekasi, dll.
2.
Pasar jamur tiram saat ini telah meluas di sekitar Jawa
Barat, DKI Jakarta dan Banten sehingga diperlukan produksi jamur tiram dalam
skala besar.
3.
Perkembangan usaha jamur yang semula terkonsentrasi di
pulau jawa mulai menyebar ke seluruh Indonesia terutama Sumatera, Kalimantan,
dan Sulawesi.
4.
Produk olahan jamur masih sangat jarang ditemui bahkan di
kota kota besar sekalipun. Sebagai contoh di Bandung yang dikenal dengan kota
kuliner, kuliner jamur masih sangat minim.
Proyeksi Pengembangan Usaha
Usaha ini
diorientasikan sebagai usaha kecil menurut banyak pakar ekonomi, namun usaha
tersebut dipandang sebagai tulang punggung dalam salah satu pemulihan ekonomi
Indonesia. Untuk itu pengembangan budidaya jamur ini akan dibagi dalam tiga
tahap, yaitu: tahap industri kecil awal, tahap industri kecil lanjut, dan tahap
industri menengah. Penjelasan mengenai ketiga tahap industri tersebut adalah
sebagai berikut :
A. Tahap Industri Kecil Awal
- Tahap ini merupakan langkah awal menuju terbentuknya industri padat karya yang kuat dan kokoh
- Menerapkan standar produksi yang tepat untuk mengoptimalkan hasil budidaya jamur.
- Penambahan tenaga kerja.
Tahap
industri kecil awal ini merupakan jembatan menuju berdirinya industri kecil
yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Investasi untuk tahap industri kecil awal
antara 50 hingga 200 juta rupiah. Tahap
ini sudah dan sedang berjalan.
B. Tahap
Industri Kecil Lanjut
Tahap ini merupakan pengembangan dari tahap
industri kecil awal. Pada tahap inilah
model usaha dari hulu ke hilir mulai dibangun. Pembangunan difokuskan pada
3 inti usaha yaitu
1. Pembuatan
pusat produksi bibit (Laboratorium
bibit)
2. Perluasan
kapasitas produksi dan budidaya jamur
3. Pembuatan
rumah produksi kuliner dan turunannya (booth, gerai kuliner)
Industri
ini diharapkan mampu menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari pekerja kasar di
bagian produksi hingga profesional di bagian laboratorium, pemasaran, R & D
dan administrasi.
Investasi yang
dibutuhkan untuk tahap industri kecil lanjut ini berkisar antara 250 hingga 500 juta rupiah.
C. Tahap Industri
Menengah Nasional
Secara
umum, tahap industri menengah adalah perluasan dari industri kecil, mulai dari
sistem, kapasitas produksi hingga ekspansi distribusinya. Tidak tertutup
kemungkinan untuk melakukan ekspor. Tahap ini diharapkan mampu menyerap
sedikitnya 100 tenaga kerja. Investasi yang diperlukan masih dalam analisis.
Tertarik untuk berInvestasi..?
Info lebih lanjut/Permintaan Proposal, hubungi kami:
Call/SMS/WA: 0852-2222-8431
Tidak ada komentar:
Posting Komentar